Kamis, 06 Februari 2014

THAHARAH/BERSUCI (bagian 1)

Dalam islam hal bersuci dan seluk-beluknya aalah termasuk ilmu dan amalan yang penting, karena diantara syarat-syarat shalat telah ditetapkan bahwa seseorang yang akan melakukan ibadah shalat wajib suci dari hadas dan suci badan, pakaian, dan tempat dari najis
Fiman Allah dalam surat Al-baqarah ayat 222                                                                                  

Urusan bersuci meliputi beberapa perkara seperti :
·         Alat bersuci, seperti air, tanah dan lain-lain
·         Kaifiat (cara) bersuci
·        Macam dan jenis-jenis najis yang perlu disucikan
·         Benda yang wajib disuci
·         Sebab-sebab dan keadaan yang menyebabkan wajib bersuci
BERSUCI ADA DUA BAGIAN
·         Bersuci dari hadast. Bagian ini berhubungan dengan badan seperti ; mandi, berwudhu, dan tayamum.
·         Bersuci dari najis. Bagian ini berlaku pada badan, pakaian, dan tempat
MACAM-MACAM DAN PEMBAGIAN AIR
1.      Air yang suci dan mensucikan. Air yang demikian boleh diminum dan bisa juga dipakai untuk mensucikan badan, benda dan lain-lain. Yaitu air yang jatuh dari langit atau keluar dari bumi dan masih belum berubah keadaannya, seperti ; air hujan, air laut, air sumur, air es yang sudah hancur kembali, air embun, dan air yang keluar dari mata air.
(Firman Allah dalam surat Al-anfal ayat 11)

(Dan dalam suatu riwayatpun ada seorang yang bertanya kepada nabi “ ya rasullah, kami berlayar dilaut dan hanya membawa bekal air sedikit apabila air itu kami pergunakan untuk berwudu maka kami tidak bisa minum, dan bolehkah kami berwudhu dengan air laut????....jawab rasullah “air laut itu suci mensucikan, bangkainya halal dimakan”. Hadis ini diriwayatkan oleh lima ahli hadis, menurut keterangan tirmidzi, hadis ini hasan sahih.)

Perubahan air yang tidak menghilangkan keadaanny atau sifat suci mensucikannya, baik perubahan itu pada salah satu sifatnya, semua sifat-sifatnyayang tiga (warna, rasa dan baunya) adalah sebagai berikut :
·         Berubah dengan sebab tempatnya, seperti air yang tergenang atau mengalir di batu belerang
·         Berubah karena lama terletak atau berada dalam tempat tertentu, seperti air kolam
·         Berubah karena sesuatu yang terjadi padanya, seperti berubah dengan sebab ikan atau kiambang
·         Berubah dengan sebab tanah yang suci, begitu juga segala perubahan yang sukar memeliharanya, seperti perubahan yang disebabkan daun-daun yang  jatuh dari pohon-pohon yang berdekatan dengan sumur atau tempat air itu.

2.      Air suci, tapi tidak mensucikan. Ini artinya bahwa zat air ini suci tapi tidak bisa digunakan untuk bersuci atau mensucikan sesuatu. Ada tida macam air yng termasuk katagori ini :
·         Air yang telah berubah salah satu sifatnya dengan sebab bercampur dengan suatu benda yang suci selain daripada perubahan yang tersebut diatas, seperti air kopi, the dan lain sebagainya
·         Air sedikit, berarti kurang dari dua qullah, sudah terpakai untuk mengangkatkan hadas atau menghilangkan najis, sedang air itu tidak berubah sifatnya dan tidak pula bertambah timbangannya
·         Air pohon-pohonan atau buah –buahan, seperti air nira, air kelapa dan sebgainya

3.      Air yang bernajis, air yang termasuk katagori ini ada dua macam yaitu :
·         Sudah berubah salah satu sifatnya oleh najis, air ini tidak boleh dipakai lagi, baik airnya sedikit atua banyak, hukumnya seperti najis
·         Air bernajis tapi tidak berubah salah satu sifatnya, air ini kalau sedikit berarti kurang dari dua qullah, tidak boleh pula dipakai lagi. Malahan hukumnya sama dengan najis. Kalau banyak  atau dua qullah lebih hukumnya suci mensucikan
4.      Air yang makruh dipakai, yaitu yang terjemur oleh matahari dalam bejana selain bejana emas atau perak, air makruh dipakai untuk badan, tidak untuk pakaian, kecuali air yang terjemur  ditanah seperti sawah, air kolam dan tempat-tempat yang bukan bejana yang mungkin berkarat

BENDA-BENDA YANG TERMASUK NAJIS
Suatu barang tau benda menurut hukum aslinya adalah suci selama taka da dalil yang menunjukan bahwa benda itu najis. Benda najis itu ada banyak diantaranya adalah :
·         Bangkai binatang darat yang berdarah selain mayat manusia. Adapun  bangkai binatang laut seperti ikan dan bangkai binatang darat yang tidak berdarah ketika masih hidupnya seprti belalang dan mayat manusia semuanya suci
(Dalam firman allah dalam surat al-maidah ayat 3)
·         Darah, segala macam darah selain dari hati dan limpa
(Firman allah dalam surat al-maidah ayat 3 juga)
·         Nanah, segala macam nanah najis, baik yang kental maupun yang cair karena nanah itu darah yang busuk
·         Segalabenda cair yang keluar dari kubul dan dubul, semuanya najis selain dari pada mani, baik biasa seperti  tahi, kencing, atau yang tiada biasa seperti madzi. Baik daripada keluar dari hewan yang halal maupun hewan yang diharamkan
·         Arak, tiap-tiap minuman keras yang memabukan
·         Anjing dan babi, semua hewan suci kecuali babi
·         Bagian badan binataang yang diambil dari tubuhnya selagi hidup. Hukum bagian-bagian badan binatang yang diambilselagi hidup, sperti bangkai. Maksudnya, kalau bangkainya najis maka yang dipotong juga najis, seperti babi atau kambing. Kalau bangkainya suci, yang dipotong sewaktu hidupnyapun suci pula, seperti yang diambil dari ikan hidup. Dikecualikan bulu hewan yang halal dimakan, hukumnya suci.
(Firman Allah dalam surat an-nahl ayat 80)

KAIFIAT (CARA) MENCUCI BENDA YANG KENA NAJIS
Untuk melakukan kaifiat mencuci benda yang kena najis, terlebih dahulu kita harus mengetahui bahwa najis ada 3 bagian atau macam :
·         Najis mughallazhah (tebal), yaitu anjing. Cara mensucikan benda yang kena najis ini, hendaknya dibasuh tujuh kali, satu kali dari padanya hendaknya dicampur dengan tanah
·         Najis mukhaffafah (ringan atau enteng), seperti air kencing anak laki-laki yang belum makan makanan selain dari air susu. Cara untuk mensucikan benda yankena najis ini adalah memadai dengan memercikan air atas benda itu meskipun tidak mengalir. Adapun kencing kanak-kanak yang belum makan selain dari air susu, maka cara mencucinya hendaklah dibasuh sampai mengalir air atas benda itu, dan hilang zat najis dan sifat-sifatnya, sebagai mana mencuci air kencing orang dewasa.
·         Najis muttawasithah (pertengahan),  yaitu najis lain yang disebutkan seperti najis-najis sebelumnya diatas. Najis muttawasithah ini terbagi menjadi dua bagian :
a)      Dinamakan najis hukmiah, yaitu yang kita yakini adanya tetapi tidak nyata zatnya, baunya, rasanya, dan warnanya, sifatnya telah hilang; cara mensucikan benda yang kena najis ini cukup dengan mengalirkan air diatas benda yang kena najis itu
b)      Najis ‘ainah, yaitu yang masih ada zat, warna, rasa atau baunya. Terkecuali warna atau bau yang sukar untuk menghilangkannya sifat ini di maafkan. Cara mensucikan benda yang kena najis ini yaitu dengan cara menghilangkan zat, warna dan baunya.

ISTINJA (CEBOK)
Apabila keluar kotoran dari kubul dan dubul, wajib istinja dengan air atau 3 buah batu; yang lebih baik mula-mula dengan batu atau sebgainya, selanjutnya diikuti dengan air.
Ada hadist rosul yang diriwayatkan oleh bukhari dan muslim, bahwa rasulullah telah melalui dua buah kubur, ketika itu beliau berkata “kedua orang didalam kubur ini disiksa. Yang seorang disiksa karena mengadudomba orang dan yang satunya lagi tidak meng-istinja kencingnya”
Kemudian hadist lain yang diriwayatkan bikhari. Sabda rosullah “apabila seseorang diantara kamu beristinja dengan batu hendaklah ganjil”
Adapun yang dimaksudkan batu disini adalah benda yang keras, suci dan kesat, seperti kayu, tembingkar dll. Sedangkan yang licin seperti kaca tidak syah buat istinja, Karen atidak dapat menghilangkan najis. Demikian benda yang dihormati seperti makanan dan sebagainya, karena mibazir.
Syarat istinja dengan batu dan yang seumpaya, hendaklah sebelum kotoran itu kering dan mengenai tempat lain selain tempat keluarnya. Jika kotoran itu sudah kering dan mengenai tempat lain selain dari tempat keluarnya maka tidak sah lagi istinja dengan batu dan wajib beristinja dengan air.

ADAB BUANG AIR
a.       Sunnat mendahulukan kaki kiri ketika masuk kaskus dan keluar denganmendahulukan kaki kanan
b.      Jangan berkata-kata selama dalam kaskus
c.       Hendaklah memakai sapatu atau sandal dan seacamnya karena rosul melakukan hal tersebut. Hadis yang diriwayatka oleh baihaqi
d.      Hendaklah jau dari orang supaya bau kotoran tidak mengganggu orang lain
e.       Jangan berkata selain hal yang sangat penting atau darurat dan tidak bsa ditangguhkan, hadis yg diriwayatkan oleh hakim
f.       Jangan buang air di air yan tenang, karena rosullah melarang buang air ditempat air yang tenang kecuali air tenang itu besar menggenang, HR Muslim
g.      Jangan menbuang air dilubang-lubang tanah karena ada makhluk lain atau binatangkan yang dimungkinkan tersakiti atau terganggu oleh air kencing tersebut, dan rosul melarang hal tersebut dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh abu daud
h.      Jangan buang air ditempat perhentian, Karen amenggau orang yang berhenti disana

WUDHU                                            
Perintah wajib wudhu bersamaan dengan perintah wajib shalat lima waktu, yaitu satu tahun setengah sebelum tahun hijrah. Dan perintah itu ada dalam QS.Al-maidah ayat 6
Syarat-syarat wudhu
·         Islam
·         Mumayiz, karena wudhu itu iabdah yang wajib berniat sedang orang yang belum beragama islam dan orang yang belum mumaiyiz tidak diberi hak untuk berniat
·         Tidak berhadast besar
·         Dengan air yang suci dan mensucikan
·         Tidak ada yang menghalangi sesampainya air ke kulit; seperti getah atau sebagai yang melekat diatas kulit anggota wudhu
Fardu atau rukun wudhu
a.       Niat
b.      Membasuh kuma, berpedoman pada surat almaidah ayat 6. Batas muka yang wajib dibasuh ialah dari tempat tumbuh rambut kepala sebelah atas sampai kedua tulang dagusebelah bawah; lintangannya, dari telinga ke telinga; seluruh bagian muka tersebut wajib dibasuh, tak boleh ketinggalan sedikitpun, bahkan wajib dilebihkan sedikit agar kita yakin terbasuh semuanya. Menurut qaidah hukum fiqih; sesuatu yang hanya dia dapat disempurnakan yang wajib, maka hukumnya juga wajib.
c.       Membasuh kedua tangan hingga kesiku, maksudnya siku wajib dibasuh. Berdasarkan pada surat almaidah ayat 6
d.      Menyapu bagian kepala dengan air, walau sebagian kecil sekalipun, sebaiknya tidak kurang dari selebar ubun-ubun, baik yang disapu itu kulit kepala atau rambut. Berdasarka ayat almaidah ayat 6
e.       Membasuh dua tapak kaki sampai kemata kaki, maksudnya dua mata kaki wajib juga dibasuh; berdasarkan ayat 6 dlm surat almaidah
f.       Menertibkan rukun-rukun diatas, selain dari niat dan menbasuh muka. Keduanya wajib dilakukan bersama-sama dan didahulukan dari yang lain

Sunah-sunah dalam wudhu
·         Membaca “bismillah” pada permulaan wudhu
·         Membasuh kedua telapak tangan sampai kepergelangan tangan, sebelum berkumur-kumur
·         Berkumur-kumur
·         Memasukan air kehidung
·         Menyapu seluruh kepala
·         Menyapu kedua kuping bagian dalam dan luar
·         Menyilang-nyilang anak jari kedua tangan dengan cara berpanca dan menyilang-nyilangi anak jari kakidengan kelingking tangan kiri, dimulai dengan kelingkin kaki kanan, disudahi pada kelingkin kaki kiri; sunnat menyilangi anak jari kalau air dapat sampai diantara anak jari dengan tidak disilangi. Tetapi apabila air tidak sampai kepadanya melainkan dengan disilangi maka menyilangi anak jari ketika itu menjadi wajib bukan sunnah
·         Mendahulukan anggota tubuh bagian kanan dari pada bagian yang kiri
·         Membasuh bagian anggota sebanyak tiga kali
·         Berturut-turut antara anggota, yang dimaksud disini adalah sebelum kering anggota pertama yang dibasuh, anggota kedua harus segera dibasuh pula dan sebelum anggota kedua kering anggota ketiga harus dibasuh dan seterusnya kenggota bagian yang lain
·         Jangan meminta pertolongan orang lain kecuali sakit
·         Tidak diseka, kecuali ada hajat seperti sangat dingin
·         Menggosok anggota wudhu biar lebih bersih
·         Menjaga supayapercikan air itu, agar jangan kembali kepada badan
·         Jangan bercakap-cakap ketika berwudhu, terkecuali ketika ada hajat
·         Bersiwak
·         Membaca dua kalimah syahadat dan menghadap kiblat ketika berwudhu
·         Berdoa ketika sesudah berwudhu
·         Membaca kedua kalimah syahadat ketika selesai berwudhu

Yang membatalkan wudhu
·         Keluar sesuatu dari kubul dan dubul, atau dari salah satu dari keduanya
·         Hilang akal, mabuk atau gila
·         Bersentuhan kulit laki-laki dengan perempuan, ketika keduanya laki-laki bersentuhan kulit maka keduanya batal wudhu dengan syarat keduanya sudah dewasadan antara keduanya bukan mukhrim, baik mukhrim turunan, pertalian persusunan, atau mukhrim perkawinan.
·         Menyentuh kemaluan dan pintu dubul baik punya orang lain atau punya sendiri dan yang batal hanya yang menyentuhnya saja, walau pun yang disentuh umurnya tidak dewasa tetap batal wudhunya

#bab thaharah ini belum selesai, Insya Allah disambung lagi J


Sabtu, 01 Februari 2014

EMPAT MAZHAB POPULER SAMPAI SAAT INI

1.      MAZHAB HANAFI
Penyusunnya adalah imam abu hanafi. Beliau dilahirkan pada tahun 80 hijriah dan meninggal dunia didaeerah bagdad pada tahun 150 hijrah. Beliau belajar dikaufah, dan disanalah beliau menyusun mazhabnya. Kemudian beliau duduk berfatwa mengembangkan ilmu pengetahuan dibagdad. Beliau memberikan penerangan kepada segenap lapisan muslimin, sehingga beliau terkenal sebagai orang alim yang terbesar dimasa itu, mahir dalam ilmu fiqih, pandai menghistinbatkan hokum dari alquran dan hadits.
Menurut riwayat yang dapa dipercayai dinyatakan bahwa beliau adalah wadhi ilmu fiqih (yang mula-mula menyusun ilmu fiqih sebagai susunan sekarang ini) telah bergau dengan hanifah beberapa ulama, mereka pelajari mazhab it dan mereka tulis hokum yang mereka dapat dari mereka itu mereka dalah sebagai penyokong mazhab abu hanifah, kemudian sebagian besar dari mereka itu kembali meyelidiki dan memeriksa hokum-hukum tadi dengan memeriksa dalil-dalilnya serta disesuaikan dengan keadaan-keadaan kefaedahan dan kemudaratannya, sehingga mereka tidak mufakat terhadap sebagian dari hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh imam tadi. Bahkan mereka tetapkan pada hukumnya menurut pendapat mereka yang berbeda dengan pendapat imam abu hanifah. Mereka inilah yang dinamakan sahabat-sahabat abu hanifah, diantaranya abu jusuf, Muhammad bin hasan dan jufar. Mazhab ini banyak tersiar dinegeri-negeri bagdad, parsi, Bukhara, mesir, syiam dan tempat-tempat lain.

2.      MAZHAB MALIKI
Nama penyusunnya malik bin anas al-ashbahi, beliau dilahirkan tahun 93 hijrah dan meninggal dunia pada bulan safar tahun 170 hijrah, beliau belajar di madinah dan disanalah beliau menulis kitab al-muattha, kitab hadist yang terkenal sampai sekarang, beliau menyusun kitab tersebut atas anjuran khalifah mansyur ketika beliau bertemu diwaktu hajji.
Beliau susun mazhab beliau atas empat dasar yaitu kitab suci, sunnah rasul, ijma, dan qias. Hanya dasar yang terakhir beliau gunakan dalam hal-hal yang terbatas sekali, karena belia ahli hadits beliau berkata. “sesungguhnya saya sebagai manusia biasa kadang-kadang betu dan kadang-kadang salah maka hendaklah kamu periksa dan selidiki pendapat-pendapatku itu kalu yang sesuai dengan assunah maka ambilah ”. imam malik ahli fiqih dan hadist beliau terbilang paling berpengaruh dimasanya diseluruh hijaz, orang sebut beliau sayyid fuqaha alhijaz. (pemimpin ahli fiqih diseluruh daerah hijaz) beliau mempunyai sahabat (murid-murid ) yang sebanyak, diantaranya yang terkemuka Muhammad bin idris bin syafi’i, al-laitsi binsa’ad abu ishak al-farazi dll. Pengikut mazhab ini yang terbanyak ditunisia, Tripoli, maghribi, mesir dll.
3.      MAZHAB SYAFI’I
Nama penyusunnya adalah Muhammad bin idris bin syafi’I keturunan bangsa kuraisy. Beliau dilahirkan di khuzah tahun 150 hijrah, dan meninggal dunia di mesir tahun 204 H. sewaktu beliau berumur 7 tahun telah hafaz Al-quran, setelah beliau berumur 10 tahun beliau hafaz Al-muattha’ (kitab guru beliau imam Malik). Setelah beliau berumur 20 tahun beliau mendapat izin dari gurunya (Muslim Bin Khalid) untuk berfatwa. Kata ali bin usman: “saya tidak pernah melihat orang lebih pintar dari syafi’i, sesungguhnya tidak ada seorangpun yang menyamainya dimasa itu, yang pintar dalam segala pengetahuan, sehingga bila ia melontarkan anak panah dapat dijamin 90% akan mengenai sasarannya”.
Setelah beliau hamper berumur 20 tahun beliau pergi ke madinah karena mendengar khabar imam malik yag begitu terkenal seorang alim besar dalam ilmu hadist dan fiqh. Disana beliau belajar kepada imam malik, kemudian beliau berjalan ke irak,  disana beliau bergaul dengan sahabat-sahabat imam abu hanifah. Dan beliau terus ke parsi dan beberapa negeri lain. Kira-kira habis dua tahun masa beliau dalam perjalanan ini.
Dalam perjalanan beliau kenegeri-negeri itu bertambah pengetahuan beliau tentang keadaan kehidupan dan tabiat manusia, keadaan bahwa yang menimbulkan perbedaan adat dan akhlak, sangat berguna bagi beliau sebagai alat untuk mempertimbangkan hukum peristiwa-peristiwa yang akan beliau hadapi. Kemudian beliau diminta oleh khalifah harun arrasyid supaya tetap di bagdad. Setelah beliau tetap di bagdad disanalah beliau menyiarkan agama dan pendapat-pendapat beliau diterima oleh segala lapisan. Baik terhadap rakyat ataupun pemerintah, dimana beliau bergaul bertukar pikiran dengan ulama-ulama terutama sahabat-sahabat imam abu hanifah, sehingga dengan pergaulan dan pertukaran pikiran itu beliau dapat menyusun pendapat qadim” (pendapat beliau yang pertama). Kemudian kebali ke makkah pada tahun 198 H. pada tahun itu beliau sampai di mesir dan disan abeliau menyusun pendapat beliau yang baru (qaulul jadid).
Kata-kata safi’I yang perlu menjadi perhatian, terutama bagi ulama yang menyokong dan mengikuti mazhab syafi’i ialah : “apabila hadist itu sah, itulah mazhabku, dan buangkanlah perkataanku yang timbul dari ijtihadku”. Pengikut mazhab syafi’I yang terbanyak di mesir, Kurdistan, yaman, aden hadramaut, makkah, Pakistan, Indonesia, dan lain-lain
4.      MAZHAB HANBALI
Nama penyusunnya adalah ahmad bin Muhammad bin hanbal bin hilal. Beliau dilahirkan di bagdad dan meninggal dunia pada hari jum’at tanggal 12 rabi’ul awwal tahun 241 H. beliau belajar semenjak kecil di bagdad, syam, hijaz, dan yaman. Beliau adalah murid dari imam syafi’i, syafi’i memuji beliau, katanya “saya keluar dari bagdad, tidak saya tinggalkan disana yang lebih takwa, lebih wara’, lebih alim selain ahmad bin Muhammad bin hanbal bin hilal yang sungguh banyak menghafal hadist”.
Murid beliau banyak yang terkemuka, diantaranya bukhari dan muslim. Beliau berpegangteguh kepada fatwa sahabat apabila tidak ada nas. Beliau susun mazhab beliau atas empat dasar. Dasar yang perta nas al-quran dan hadis. Dalam soal yang beliau hadapi beliau selidiki nas ada atau tidaknya, kalau ada nas beliau berfatwa dengan nas itu. Dasar kedua, fatwa sahabat. Dalam satu peristiwa apabila tidak ada nas tersebut yang bersangkutan dengan peristiwa, beliau cari fatwa sahabat-sahabat : apabila ada fatwa dari salah satu sahabat sedang beliau tidak melihat ada bantahannya dari sahabat-sahabat lain, beliau hukumkan peristiwa itu menurut fatwa sahabat tadi. Jika fatwa itu berbeda antara beberapa sahabat beliau pilih yang lebih dekat kepada kitab atau sunnah.
Dasar ketiga, hadis mursal, atau lemah, apabila apabila tidak bertentangan dengan dalil-dalil lain. Dasar ke-empat, qias. Beliau tidak memakai qias terkecuali tidak ada jalan lain. Beliau sangat hati-hati dalam melahirkan fatwa apabila tidak ada nas atau dasar sahabat, sehingga kemungkinan besar karena sangat hati-hati beliau menjalankan fatwa itu, menyebabkan lambatnya mazhab beliau tersiar didaerah daerah yang jauh. Apalagi murid-murid beliau sangat berhati-hati pula.
Mula-mula mazhab itu tersiar di bagdad, kemudian berangsur-angsur keluar ke daerah-daerah lain. Sekaran gyang terbanyak pengikutnya di hijaz, apalagi setelah ditetapkan oleh raja ibnu sa’ud menjadi mazhab resmi bagi pemerintah sa’udi Arabia. Di mesir tidak Nampak mazhab inikecuali pada abad ke 7 H. sehingga sekarang tidak banyak rakyat mesir yang mengikuti mazhab ini.